DPR Tunda Pengesahan RUU Ormas

DPR menangguhkan pengesahan RUU Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) pada masa sidang ketiga yang berakhir ditutup hari ini, Jumat (12/4). Kesepakatan itu disampaikan Ketua DPR Marzuki Ali setelah mendapat laporan dari panitia kerja (Panja) RUU Ormas.

“Dari laporan yang saya terima, RUU ini akhirnya disepakati untuk ditunda, karena ada beberapa pasal yang perlu penyesuaian,” tutur Marzuki.

Penolakan masyarakat memang gencar. Bahkan, sejak pagi sebelum rapat paripurna penutupan masa sidang dibuka, ratusan anggota Pemuda Muhamadiyah berunjuk rasa di depan gedung DPR menolak pengesahan RUU tersebut.

Meski ditunda, Marzuki mengatakan akan mengesahkan RUU Ormas pada masa persidangan berikutnya. Dia katakan, semua fraksi sepakat dengan RUU ini sehingga mengesahkan pada masa persidangan berikut tidak masalah. “Insya Allah,” tukasnya.

Menurut Marzuki panja RUU Ormas melaporkan banyak ormas dengan basis massa besar menolak rancangan ini. Khususnya Ormas yang sudah memiliki sejarah panjang seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah.

Ketua DPR meminta Panja RUU Ormas agar berkomunikasi dengan NU dan Muhamadiyah. Prinsipnya, kata Marzuki, apapun masukan dari ormas,DPR akan mengikuti keinginan tersebut sepanjang demi kebaikan bangsa.

Ketua Panja RUU Ormas Abdul Malik Haramain menambahkan keputusan menunda lantaran bersifat teknis. Namun secara substansi dan prinsipal, rumusan pasal sudah disepakati oleh seluruh fraksi, termasuk perubahan terakhir sebagaimana yang diusulkan Muhamadiyah.

Dijelaskan Malik, persoalan teknis dimaksud antara lain redaksional pasal masih harus diperbaiki. “Sekali lagi, penundaan itu bukan karena tidak clear, karena substansi sudah clear. Sudah selesai, tinggal persoalan teknis redaksional,” ujarnya.

Malik menyampaikan Panja RUU Ormas telah mendatangi sejumlah ormas dan ulama se-Jabotabek. Tujuannya untuk menjaring masukan dan sosialisasi pembahasan RUU Ormas di DPR. Bahkan, uji publik sudah dilakukan ke sembilan daerah dengan melakukan audiensi dan hearing. “Karena memang itu komitmen kita sejak awal dan ini menyangkut ormas,” katanya.

Sesama anggota Pansus RUU Ormasdari Komisi III, Indra menyatakan penundanaan pengesahan adalah langkah tepat. Karena masih ada sejumlah hal dalam RUU yang dinilai belum tuntas pembahasannya.

Semisal, jelas Indramengenai ‘sanksi’. Lalu, kata ‘larangan’ dan beberapa kalimat yang dianggap multi tafsir. Karena itulah dia setuju agar RUU Ormas kembali dikaji ulang sebelum disahkan pada rapat paripurna berikutnya.

Terpenting, kata Indra, Pansus harus kembali menjaring masukan dan kehendak publik. “Jadi kita sepakat untuk tidak dipaksakan,” imbuhnya.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyetujui penundaan tersebut. Menurut Gamawan, masih diperlukan ruang dialog antara publik dengan Pansus. Setidaknya dengan dialog akan ditemukan kesepakatan, pemahaman masyarakat dan menampik tudingan kembali ke nuansa orde baru.

Ia berpendapat masih banyaknya masyarakat yang belum memahami RUU Ormas. Misalnya, kata Gamawan soal perubahan asas, lalu keharusan pendaftaran organisasi besar.

Dia berjanji, pemerintah juga akan melakukan dialog dengan masyarakat sebelum disahkan. Menurutnya, pengesahan RUU Ormas penting dilakukan. Sebab jika tidak, maka UU No.8 Tahun 1985 tentang Ormas akan tetap berlaku. Padahal, tegas Gamawan, UU 8 Tahun 1985 terbilang keras lantaran menerapkan asas tunggal.

Koordinator Kontras Haris Azhar menyatakan penundanaan pengesahan adalah langkah awal yang baik bagi DPR dan pemerintah. Ia meminta DPR mendengar aspirasi masyarakat, termasuk kelas buruh. “Awalan yang bagus untuk tidak mengesahkan, dan saya memaklumi penolakan masyarakat,” tandasnya.

 sumber : http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5167bbff601d4/dpr-tunda-pengesahan-ruu-ormas

Maha Samaya Sangha Mahayana Indonesia (SMI) – 17-18 Mei 2009 – dibuka dan ditutup Oleh Dirjen Bimas Buddha Depag RI

Sangha Mahayana Indonesia (SMI) menyelenggarakan Maha Samaya Pertama di Arena Pekan Raya Jakarta di ruang Hall E pada Minggu dan Senin 17-18 Mei 2009.

Kegiatan acara dibuka dan ditutup oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Depag RI Drs. Budi Setiawan MSc. Serta dihadiri Ketua Umum DPP Walubi Dra.S.Hartati Murdaya dan perwakilan Bhiksu Sangha diantaranya dari Sulawesi Utara, DKI-Jakarta, Sumatera Utara, Bangka, Banten dan Sumatera Selatan serta Perwakilan Majelis diantaranya dari Martrisia, Mapanbumi, Madha Tantri, ZFZ Kasogatan, NSI, PS BDI, LKBI, Majabumi TS, Mahabudhi dan Majabudti.

Budi Setiawan menyampaikan bahwa tanggung jawab generasi penerus sebagai umat Buddha Mahayana dalam melangkah kedepan tidak mudah dan semakin berat dan semakin berat.”oleh karena itu pada Kongres Sangha Mahayana Indonesia Pertama yang terbentuk tergabung di Walubi ini, harus sudah siap mengambil kendali untuk pembinaan remaja serta mengisi jiwa mereka dari masing masing aktivitasnya, agar hidupnya benar benar di jalan Dharma.

Budi juga mengatakan sangat berterimakasih kepada para pengurus jajaran SMI yang telah terbentuk dan berjalan aman,lancar. Semoga SMI selalu dekat dengan umat dan dapat dipercaya untuk memajukan insan Budha yang lebih baik lagi.

Ketua Umum DPP Walubi Dra.S.Hartati Murdaya dalam sambutannya mengupas masa lalu tentang keberadaan para Bhiksu Mahayana yang pada umumnya dikatakan cuma bisa liamkeng, cari dana bikin upacara. Para Bhiksu Mahayana dalam kaca mata seorang ibu Ketua Umum Walubi, menilai kebanyakan Bhiksu lebih mengutamakan kepentingan duniawi, ketimbang mempelajari ajaran Buddha, meniru keteladan Hyang Buddha yang patut dan telah mempunyai Bodhicita yang sempurna.

Harapannya Ibu Hartati Murdaya, dengan terbentuknya Maha Samaya Pertama SMI ini, para Bhiksu dapat mengaktualisasikan kepentingan umat. Membuka pintu lebar lebar, agar generasi penerus nantinya tidak salah memilih ajaran agama Buddha yang dianutnya.

Bhiksu Dhyanavira Maha Sthavira Ketua Umum SMI terpilih masa bakti 2009-2014. mengatakan dirinya siap mengemban tugas dengan sebaik baiknya. Serta akan mengimplementasikan ajaran Buddha Dharma secara Mahayana melalui membenahan diri dan dimulai dari jajaran kepengurusan SMI yang telah terbentuk secara sah.

Kegiatan SMI selama dua hari kongres yang cukup keras dalam perang interupsi menentukan sikap para Bhiksu dan akhirnya Bapak Dirjen Bimas Buddha Depag RI siap membuka dan menutup acara Kongres Maha Samaya SMI hingga selesai.

Hadir pada pembukaan jajaran Pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Ibu Murdaya, Citra Surya, Alex Tumondo,N.Singgih, Iwan Idris, Irwan Kartasasmita, Winarni Harsono,dan Rusli.

sumber : http://www.walubi.or.id/warta2009/sanghasamaya_smi.shtml